KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis
panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkatrahmat dan hidayahnya
akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Kerajaan Islam Di
sumatera”
Berdasarkan sumber-sumber yang kami dapat dari luar maupun dari dalam, walaupun masih
banyak kekurangan. Makalah ini dimaksudkan untuk memberikan
informasi mengenai sejarah masuknya islam ke Indonesia, juga memberikan
penjelasan yang jelas mengenai proses
masuknya islam ke Indonesia serta menjelaskan islam pada masa yang akan datang.
Diharapkan bahwa makalah
ini membantu pembaca untuk memahami dengan lebih baik tentang Sejarah
Masuknya
Islam
ke Nusantara. Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna,
disebabkan karena terbatasnya kemampuan kami, oleh karena itu saran dan kritik
yang bersifat membangun sangat kami perlukan dari pembaca. Semoga buku ini
bermanfaat bagi kita semua.
Subang, 5 Februari 2016
Penulis
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar……………………………………………………………………...........
Daftar
Isi…………………………………........………………...……….……………………........
BAB
I
PENDAHULUAN
1 Latar Belakang ............................................................................................................................................................
2 Rumusan Masalah ......................................................................................................................................................
BAB I I
PEMBAHASAN
A. Masuk dan berkembangnya islam di sumatera
.............................................................
B. Kerajaan – kerajaan islam
pertama di sumatera
...............................................................................................
1. Kesultanan
Perlak
......................................................................................
2. Samudera
Pasai .........................................................................................
3. Aceh
Darussalam
........................................................................................
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
..........................................................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA
...............................................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak zaman pra sejarah, penduduk kepulauan
Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas.
Sejak awal masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara
kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara. Wilayah
Barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang
menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik
bagi para pedagang, dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India.
Sementara itu, pala dan cengkeh yang berasal dari Maluku dipasarkan di Jawa dan
Sumatera, untuk kemudian dijual kepada para pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan
penting di Sumatra dan Jawa antara abad ke-1 dan ke-7 M sering disinggahi para
pedagang asing seperti Lamuri (Aceh), Barus, dan Palembang di Sumatra; Sunda
Kelapa dan Gresik di Jawa.
Bersamaan
dengan itu, datang pula para pedagang yang berasal dari Timur Tengah. Mereka
tidak hanya membeli dan menjajakan barang dagangan, tetapi ada juga yang
berupaya menyebarkan agama Islam. Dengan demikian, agama Islam telah ada di
Indonesia ini bersamaan dengan kehadiran para pedagang Arab tersebut. Meskipun
belum tersebar secara intensif ke seluruh wilayah Indonesia.
1.2 Tujuan
Makalah ini mempunyai tujuan untuk
menambah wawasan dan pengetahuan
mengenai proses perkembangan islam di Indonesia bagi para pembaca.
Disamping itu, makalah ini juga bertujuan untuk memberikan informasi
kepada para pembaca bahwa kami menjelaskan sejarah perkembangan islam dan
perkembangan pada masa yang akan datangnya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Asal-usul masuknya
Islam di Nusantara
Risalah Islam dilanjutkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. di Jazirah
Arab pada abad ke-7 masehi ketika Nabi Muhammad saw mendapat wahyu dari Allah
swt. Setelah kematian Rasullullah s.a.w. kerajaan Islam berkembang hingga
Samudra Atlantik dan Asia Tengah di Timur.
Namun, kemunculan kerajaan-kerajaan Islam seperti kerajaan Umayyah, Abbasiyyah, Turki Seljuk, dan Kekhalifahan Ottoman, Kemaharajaan Mughal, India,dan Kesultanan Melaka telah menjadi kerajaaan yang besar di dunia. Banyak ahli-ahli sains, ahli-ahli filsafat dan sebagainya muncul dari negeri-negeri Islam terutama pada Zaman Emas Islam. Karena banyak kerajaan Islam yang menjadikan dirinya sekolah.
Namun, kemunculan kerajaan-kerajaan Islam seperti kerajaan Umayyah, Abbasiyyah, Turki Seljuk, dan Kekhalifahan Ottoman, Kemaharajaan Mughal, India,dan Kesultanan Melaka telah menjadi kerajaaan yang besar di dunia. Banyak ahli-ahli sains, ahli-ahli filsafat dan sebagainya muncul dari negeri-negeri Islam terutama pada Zaman Emas Islam. Karena banyak kerajaan Islam yang menjadikan dirinya sekolah.
Di abad ke-18 dan 19 masehi, banyak daerah Islam jatuh ke tangan
Eropa. Setelah Perang Dunia I, Kerajaan Ottoman, yaitu kekaisaran Islam
terakhir tumbang. Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam merupakan sebuah
kawasan yang dilewati oleh jalur sutera. Kebanyakkan Bangsa Arab merupakan
penyembah berhala dan sebagian merupakan pengikut agama Kristen dan Yahudi.
Mekah adalah tempat suci bagi bangsa Arab ketika itu karana terdapat
berhala-berhala mereka dan Telaga Zamzam dan yang paling penting sekali serta
Ka’bah yang didirikan Nabi Ibrahim beserta Ismail.
Nabi Muhammad saw. dilahirkan di Mekah pada Tahun Gajah yaitu
570 masehi. Ia merupakan seorang anak yatim sesudah kedua orang tuanya
meninggal dunia. Muhammad akhirnya dibesarkan oleh pamannya, Abu Thalib.
Muhammad menikah dengan Siti Khadijah dan menjalani kehidupan yang bahagia.
Namun, ketika Nabi Muhammad saw. berusia 40 tahun, beliau didatangi Malaikat
Jibril Sesudah beberapa waktu Muhammad mengajar ajaran Islam secara tertutup
kepada rekan-rekan terdekatnya, yang dikenal sebagai “as-Sabiqun
al-Awwalun(Orang-orang pertama yang memeluk Islam)” dan seterusnya secara
terbuka kepada seluruh penduduk
Mekah.
Pada tahun 622 masehi, Nabi Muhammad saw dan pengikutnya
hijrah ke Madinah. Peristiwa lain yang terjadi setelah hijrah adalah pembuatan
kalender Hijirah. Penduduk Mekah dan Madinah ikut berperang bersama Nabi
Muhammad saw dengan hasil yang baik walaupun ada di antaranya kaum Islam
yang tewas. Lama kelamaan para muslimin menjadi lebih kuat, dan berhasil
menaklukkan Kota Mekah. Setelah Nabi Muhammad s.a.w. wafat, seluruh Jazirah
Arab di bawah penguasaan Islam.
Agama islam pertama masuk ke Indonesia melalui proses
perdagangan, pendidikan, dll. Tokoh penyebar islam adalah walisongo antara
lain; Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, Sunan
Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Gresik (Maulana Malik
Ibrahim) (Sumber: wikipedia)
Pada tahun 30 Hijriah atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri ini sambil berdakwah.
Pada tahun 30 Hijriah atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri ini sambil berdakwah.
Lambat laun penduduk pribumi mulai
memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat
dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam.
Bahkan di Aceh kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni kerajaan
Samudra Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat
persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang
menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim
dari Maghribi yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa
di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i. Adapun peninggalan tertua dari kaum
Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa
komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah
bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082
M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari
penduduk asli, melainkan makam para pedagang
Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk
pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk
pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk
Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan
saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu
ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan
Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa
kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam
dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara
lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan
Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas
Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah
sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke
Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut
kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar
menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin.
Dengan Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan
terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan
dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab
yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang sebagian besar
diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut,
migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut.
Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya
menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam
seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 M. Penyebabnya, selain karena
kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga
karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali
para penjajah – terutama Belanda – menundukkan kerajaan Islam di Nusantara,
mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut
berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah
hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang
telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan
ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang
mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.
Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi
ke kepulauan nusantara, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk
menguasai nusantara. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk
kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat
Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu
daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan
pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur
pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511,
Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun
sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah
pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu
menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini
dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan
Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi
orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten,
Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari
serbuan Turki Utsmani.
Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan
semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman
akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang
mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi’i. Sedangkan
pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra
Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya
hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang.
Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih
menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari
kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit
melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil
ditumpas dengan taktik yang licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara
yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan
kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu
(Filipina), Samudra Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga
perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang
Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku
Umar).(Sumber : ummah.com).
2.2 Teori Masuk dan Penyebaran Islam
Menurut para ahli sejarah, masuk dan penyebaran islam di
indonesia terdapat tiga teori, yaitu teori Gujarat, teori Saudi, dan teori
China. Yaitu :
1. Menurut teori Gujarat. Islam masuk wilayah
Indonesia dari anak benua India seperti Gujarat, Bengali, dan Malabar. Menurut
Snouck Hurgronje, Islam masuk dari daerah Doccon di India, berdasarkan fenomena
sosial bahwa ajaran tasawuf yang dipraktikkan oleh orang-orang muslim di India
bagian selatan mirip dengan ajaran islam di Indonesia. Termasuk munculnya
syi’ah di daerah Sumatera atau Jawa, dugaan itu juga muncul dari dearah India.
Sebab saat itu kerajaan islam Deccon (salah satu kerjaan di India) telah
memiliki hubungan baik dengan Iran negeri pusat penyebaran paham Syi’ah.
2. Menurut teori saudi. Pendapat yang menyatakan
bahwa islamisasi di Indonesia terjadi pada tahun 1111 atau abad ke 12 M.
Pada saat itu orang-orang Aceh dari Sumatera bagian barat laut memeluk islam
atas ajakan seorang kebangsaan Arab asli. Kemudian setelah masuk Islam mereka
mendakwahkan islam khususnya di daerah tersebut.
3. Menurut teori China. Teori yang menyatakan
bahwa masuknya islam di Indonesia langsung dari Mekah atau Madinah. Menurut
teori ini bahwa islam masuk ke Indonesia sekitar abad 7 atau 8 M. Atau abad ke
2 H, yaitu pada masa Khulafaur Rosyidin. Ekspedisi islam ke Indonesia dibawa
langsung oleh para pedagang dari Arab sejak awal abad hijriyah atau abad ke 7
M. Menurut sumber literatur Cina pada awal abad ke 2 hijrah telah muncul
perkampungan-perkampungan muslim Arab dipesisir pantai Sumatera. Diperkampungan
ini orang-orang muslim Arab bermukim dan menikah dengan penduduk setempat serta
membentuk komunitas-komunitas muslim. Teori ini adalah yang paling kuat dan
diterima para sejarahwan masa kini.
2.3 Sumber-sumber berita masuknya agama dan
kebudayaan islam di Indonesia
· Sumber-sumber luar negeri
Berita Arab : para pedagang arab telah
datang ke Indonesia sejak masa kerajaan sriwijaya (abad ke 7 M) yang menguasai
jalur pelayaran perdagangan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk selat
malaka pada masa itu.
Berita Eropa : berita ini datangnya dari
Marco polo. Ketika suatu saat dia ditugaskan untuk mengantarkan puterinya yang
di persembahkan kepada kaisar romawi.
Berita India: berita ini menyebutkan bahwa
para pedagang india dari Gujarat mempunyai peranan penting dalam penyebaran
agama dan kebudayaan islam di indonesia.
Berita China: berita ini berhasil di ketahui
melalui catatan dari ma-huan, seorang penulis yang mengikuti perjalanan
laksamana cheng-ho. Ia menyatakan melalui tulisannya bahwa sejak kira-kira
tahun 1400 telah ada saudagar-saudagar islam yang bertempat tinggal di pantai
utara pulau jawa.
· Sumber dalam negri
1. Penemuan sebuah batu di leran (dekat Gresik).batu
bersurat itu memuat keterangan tentang meninggalnya seorang perempuan bernama
Fatimah binti Makmur
2. Makam sultan Malikul Shaleh di Sumatra Utara
yang meninggal pada bulan ramadha tahun 676 H atau tahun 1297 M.
3. Makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang wafat
tahun 1419 M.
Ajaran-ajaran Islam
diantaranya yaitu:
1.
Islam mengajarkan
toleransi terhadap sesama manusia,saling menghormati dan tolong menolong.
2.
Islam mengajarkan
bahwa dihadapan Allah, derajat semua manusia sama, kecuali takwanya.
3.
Islam mengajarkan
bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pengasih dan Penyayang dan
mengharamkan manusia saling berselisih, bermusuhan,merusak, dan saling
mendengki.
4.
Islam mengajarkan agar
manusia menyembah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukannya serta senantiasa
setiap saat berbuat baik terhadap sesama manusia tanpa pilih kasih.
2.4 Cara Masuknya Islam ke Indonesia
Islam masuk ke Indonesia, bukan dengan peperangan ataupun
penjajahan. Islam berkembang dan tersebar di Indonesia justru dengan cara damai
dan persuasif berkat kegigihan para ulama. Karenamemang para
ulama berpegang teguh pada prinsip Q.S. al-Baqarah ayat 256 yaitu
“Tidak ada paksaan untuk
(memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada
jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman
kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang amat
kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(Al-Baqarah: 256).
Adapun cara masuknya Islam di Indonesia melalui beberapa cara antara lain :
1.Perdagangan
Jalur ini dimungkinkan karena orang-orang melayu telah lama menjalin kontak dagang dengan orang Arab.Apalagi setelah berdirinya kerajaan Islam seperti kerajaan Islam Malaka dan kerajaan Samudra Pasai di Aceh, maka makin ramailah para ulama dan pedagang Arab datang ke Nusantara (Indonesia).Disamping mencari keuntungan duniawi juga mereka mencari keuntungan rohani yaitu dengan menyiarkan Islam.Artinya mereka berdagang sambil menyiarkan agama Islam.
2.Kultural
Artinya penyebaran Islam di Indonesia juga menggunakan media-media kebudayaan, sebagaimana yang dilakukan oleh para wali sanga di pulau jawa. Misalnya Sunan Kali Jaga dengan pengembangan kesenian wayang.Ia mengembangkan wayang kulit, mengisi wayang yang bertema Hindu dengan ajaran Islam. Sunan Muria dengan pengembangan gamelannya.Kedua kesenian tersebut masih digunakan dan digemari masyarakat Indonesia khususnya jawa sampai sekarang.Sedang Sunan Giri menciptakan banyak sekali mainan anak-anak, seperti jalungan, jamuran, ilir-ilir dan cublak suweng dan lain-lain.
3.Pendidikan
Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang paling strategis dalam pengembangan Islam di Indonesia.Para da’i dan muballig yang menyebarkan Islam diseluruh pelosok Nusantara adalah keluaran pesantren tersebut.Datuk Ribandang yang mengislamkan kerajaan Gowa-Tallo dan Kalimantan Timur adalah keluaran pesantren Sunan Giri.Santri-santri Sunan Giri menyebar ke pulau-pulau seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga ke Nusa Tenggara.Dan sampai sekarang pesantren terbukti sangat strategis dalam memerankan kendali penyebaran Islam di seluruh Indonesia.
4. Kekuasaan Politik
Artinya penyebaran Islam di Nusantara, tidak terlepas dari dukungan yang kuat dari para Sultan. Di pulau Jawa, misalnya keSultanan Demak, merupakan pusat dakwah dan menjadi pelindung perkembangan Islam.Begitu juga raja-raja lainnya di seluruh Nusantara. Raja Gowa-Tallo di Sulawesi selatan melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh Demak di Jawa. Dan para Sultan di seluruh Nusantara melakukan komunikasi, bahu membahu dan tolong menolong dalam melindungi dakwah Islam di Nusantara.Keadaan ini menjadi cikal bakal tumbuhnya negara nasional Indonesia dimasa mendatang.
2.5 Perkembangan Masuknya Islam di Beberapa
Wilayah Indonesia
Perkembangan Islam di Indonesia berlangsung di beberapa tempat, yaitu Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Maliku, Irian Jaya, dan Nusa Tenggara.
a.Perkembangan Islam di Sumatera.
Pada pertengahan abad ke-13, di Sumatera telah berdiri kerajaan Islam Samudera Pasai yang merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia, kerajaan ini terletak di pesisir timur laut aceh yang sekarang merupakan wilayah Kabupaten Lhouksumawe. Samudera Pasai adalah sebuah kerajaan maritim, samudera pasai telah mengadakan hubungan dengan Sultan Delhi di India pada pelayaran kerajaan Samudra Pasai merupakan pusat studi agama Islam dan tempat berkumpulnya para ulama dari berbagai negara Islam.
b.Perkembangan Islam di Jawa
Perkembangan di Jawa tidak bisa dipisahkan dari peranan wali, jumlah wali yang terkenal sampai sekarang adalah sembilan, yang dalam bahasa dikenal dengan sebutan WALI SONGO. Para wali yang termasuk dalam wali songo adalah sebagai berikut :
a. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
Maulana malik ibrahim juga dikenal dengan panggilan Maulana
Maghribi atau syekh Magribi, karena berasal dari wilayah Maghribi, Afrika
Utara. Kedatangannya dianggap sebagai permulaan masuknya Islam di Jawa. Maulana
Malik Ibrahim menerapkan metode dakwah yang tepat untuk menarik simpati
masyarakat terhadap Islam.
b. Sunan Ampel (Raden Rahmat)
Pada awal penyiaran Islam di pulau Jawa, Sunan Ampel
menginginkan masyarakat menganut keyakinan Islam yang murni. Ia tidak setuju
dengan kebiasaan masyarakat Jawa, seperti kenduri, selamatan dan sesaji. Hal
itu terlihat dari persetujuannya ketika Sunan Kalijaga, dalam ocehannya menarik
umat Hindhu dan Budha mengusulkan agar adat istiadat Jawa itulah yang diberi
warna Islam
c. Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)
Dalam menyebarkan agama Islam, ia selalu menyesuaikan diri
dengan kebudayaan masyarakat yang sangat menggemari wayang serta musik gamelan.
Sunan Bonang memusatkan kegiatan dakwahnya di Tuban. Dalam aktifitasnnya ia
mengganti nama dewa dengan nama-nama malaikat.
d. Sunan Giri (Raden Paku atau ‘Ainul Yaqin)
Sunan Giri memulai aktifitas dakwahnya didaerah Giri dan
sekitarnya dengan mendirikan pesantren yang santrinya kebanyakan berasal dari
golongan masyarakat ekonomi lemah. Sunan Giri terkenal sebagai pendidik yang
berjiwa demokratis.
e. Sunan Drajat (Raden Kasim)
Sunan Drajat juga tidak ketinggalan untuk menciptakan tembang
jawa yang sampai saat ini masih digemari masyarakat, yaitu tembang pangkur. Hal
yang paling menonjol dalam dakwah sunan drajat ialah perhatiannya yang serius
pada masalah-masalah sosial, ia selalu menekan bahwa memberi pertolongan kepada
masyarakat umum.
f. Sunan Kalijaga (Raden Said)
Ketika para wali memutuskan untuk menggunakan pendekatan kultural
termasuk pemanfaatan wayang dan gamelan sebagai media dakwah, orang yang paling
berjasa dalam hal ini adalah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga mengarang aneka
cerita wayang bernafaskan Islam terutama mengenai etika.
g. Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)
Sunan Kudus mengajarkan agama Islam didaerah Kudus dan
sekitarnya, ia mempunyai keahlian khusus dalam ilmu fiqih, urul fiqih, tauhid,
hadits, tafsir dan logika. Oleh karena itu ia mendapat julukan waliyyul ‘ilmi.
Sunan Kudus juga melaksanakan dakwah dengan pendekatan kultural.
h. Sunan Muria (Raden Umar Said)
Sunan Muria memusatkan kegiatan dakwahnya di Gunung Muria yang
terletak 18 km sebelah utara kota Kudus. Cara yang ditempuhnya dalam menyiarkan
agama islam adalah dengan mengadakan kursus-kursus bagi kaum pedagang, para
nelayan, dan rakyat biasa.
i. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
Sunan gunung Jati lahir di Mekkah pada
tahun 1448. ia mengembangkan ajaran islam di cirebon, majalengka, kuningan,
kawali, sunda kelapa dan banten sebagai dasar bagi perkembanganislam di Banten.
c. Perkembangan Islam di Sulawesi
Masuknya islam di Sulawesi tidak terlepas dari peranan Sunan Giri di Gresik. Hal itu karena Sunan Giri menyelenggarakan pesantren yang banyak didatangi oleh santri dari luar Jawa, seperti ternate dan hiu. Pada abad ke-16 di sulsel telah berdiri kerajaan hindhu gowa dan tallo. Penduduknya banyak yang memeluk agama islam karena hubungannya dengan kesultanan Ternate.
d. Perkembangan Islam di Kalimantan
Pada abad ke-16, islam mulai memasuki kerajaan Sukadana. Dibagian selatan Kalimantan berdiri kerajaan islam banjar pada sekitar tahun 1526. Panngeran Suriansyah merupakan tokoh yang amat penting dalam sejarah islam di Kalimantan. Dalam usaha mengembangkan islam/ Syekh muhamad arsyad al-Banjari mendirikan pondok pesantren untuk menampung santri yang datang dari berbagai pelosok Kalimantan. Pada masa berikutnya muncul seorang pahlawan Kalimatan yang sangat berjasa dalam mengembangkan islam. Ia adalah Sultan Amirudin Khalifatul Mukminin atau yang lebih dikenal nama pangeran Antasari.
e. Perkembangan Islam di Maluku dan Irian
Jaya Penyebaran islam di Maluku tidak lepas dari jasa para santri Sunan Drajat yang berasal dari Ternate dan Hitu. Di Maluku ada 4 kerajaan bersaudara yang berasal dari keturunan yang sama yaitu Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo. Raja Tidore masuk islam dan mengganti nama menjadi Sultan Jamalludin.
Demikian juga raja Jailolo, ia masuk isalm dan mengganti nama menjadi Sultan Hassanudin. Peran kesultanan Ternate dalam penyebaran islam baru dimulai pada masa Sultan Zaenal Abidin. Ia juga berhasil mengambangkan islam ke Maluku dan Irian Jaya bahkan sampai ke Filipina.
2.6 Hikmah Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia
Setelah memahami bahwa perkembangan Islam di Indonesia memiliki
warna atau ciri yang khas dan memiliki karakter tersendiri dalam penyebarannya,
kita dapat mengambil hikmah, diantaranya sebagai berikut :
1.
Islam membawa ajaran
yang berisi kedamaian.
2.
Penyebar ajaran Islam
di Indonesia adalah pribadi yang memiliki ketangguhan dan pekerja keras.
3.
Terjadi akulturasi
budaya antara Islam dan kebudayaan lokal meskipun Islam tetap memiliki batasan
dan secara tegas tidak boleh bertentangan dengan ajaran dasar dalam Islam.
2.7 Manfaat dari Sejarah Perkembangan Islam di
Indonesia
Banyak manfaat yang dapat kita ambil untuk dilestarikan
diantaranya sebagai berikut :
1. Kehadiran para pedagang Islam yang telah
berdakwah dan memberikan pengajaran Islam di bumi Nusantara turut memberikan
nuansa baru bagi perkembangan pemahaman atas suatu kepercayaan yang sudah ada
di Nusantara ini.
2. Hasil karaya para ulama yang berupa buku
sangat berharga untuk dijadikan sumber pengetahuan.
3. Kita dapat meneladani Wali Songo
4. Menjadikan masyarakat gemar membaca dan
mempelajari Al-Qur’an.
5. Mampu membangaun masjid sebagai tempat ibadah
dalam berbagai bentuk atau arsitektur hingga kee seluruh pelosok Nusantara.
6. Mampu memanfaatkan peninggalan sejarah,
termasuk situs-situs peninggalan para ulama, baik berupa makam, masjid, maupun
peninggalan sejarah lainnya.
7. Seorang ulama atau ilmuwan dituntut oleh islam
untuk mempraktikan tingkah laku yang penuh keteladanan agar terus dilestarikan
dan dijadikan panutan oleh generasi berikutnya.
8. Para ulama dan umara bersatu padu mengusir
penjajah meskipun dengan persenjataan yang tidak sebanding.
2.8 Peradaban Islam di Masa Depan
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman didalam Al-qur’an :
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS At-Taubah : 33)
Janji telah diberikan oleh Allah Swt melalui firman-Nya itu,
bahwa Islam dengan kearifan dan kebijaksanaannya itu mampu mengalahkan
agama-agama lain. Namun tidak sedikit yang mengira bahwa janji tersebut telah
terwujud pada masa Nabi Salallahu Alaihi wa Salam , masa Khulafaur-Rasyidin dan
pada masa khalifah-khalifah sesudahnya yang bijaksana. Padahal kenyataannya
tidak demikian. Yang sudah terealisasi saat itu hanyalah sebagian kecil dari
janji di atas, sebagaimana diisyaratkan oleh Rasul Salallahu Alaihi wa Salam
melalui sabdanya yang artinya:
“Malam dan siang tidak akan sirna sehingga Al-Latta dan Al-‘Uzza
telah disembah. Lalu Aisyah bertanya: “Wahai Rasul, sungguh aku mengira bahwa
takkala Allah menurunkan firman-Nya “Dialah yang telah mengutus RasulNya
(dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya
atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai, hal itu telah
sempurna (realisasinya).”Belau menjawab: “Hal itu akan terealisasi pada saat
yang ditentukan oleh Allah.” [Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim dan
Imam-Imam yang lain]
Dari hadits diatas tidak diragukan lagi bahwa kemenangan Islam
di masa depan semata-mata atas izin pertolongan dari Allah Swt, dengan catatan
harus tetap kita perjuangkan. Perjuangan dapat dilakukan dengan cara berjihad.
Namun maksud jihad disini bukanlah peperangan atau pembunuhan massal pada kaum
non muslim. Tapi melainkan dengan cara meningkatkan mutu pendidikan yang
canggih namun tidak keluar dari nilai-nilai ajaran islam.
Sudah menjadi pemahaman bahwa kemenangan yang diraih dunia Barat
dari umat Islam ketika sedang dalam keadaan lemah dan kondisi yang rapuh
seperti saat ini, bukanlah disebabkan oleh kekuatan mereka semata, bukan pula
karena kelemahan umat Islam. Tetapi semua itu disebabkan buruknya pola berpikir
dan rendahnya tingkat pengetahuan umat Islam tentang Dienul Islam itu
sendiri.Masa depan dunia Islam tergantung pada tindakan yang diambil umat Islam
sekarang ini. Jika umat Islam telah terlalu jauh dan berpaling dari agama
mereka maka mereka akan jatuh pada musibah ketertindasan dan keterjajahan.
Oleh karena itu umat
Islam harus menyadari bahwa hanya dengan kembali kepada Islam, umat Islam akan
dapat meraih kembali kemuliaan, lepas dari segala bentuk penjajahan yang selama
ini membelenggu. Tiada lain jalan yang ditempuh selain kembali kepada Islam
sesuai pemahaman para Shahabat dan Salafussholih. Mengikuti apa yang telah
dicontohkan Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin dalam melaksanakan syariat
Islam baik dalam kehidupan individu, bermasyarakat dan bernegara.
Seperti yang telah
Allah SWT umpamakan dalam surat Ibrahim 14: ayat 24-26 yaitu ;
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat
perumpamaan kalimat yang baikseperti pohon yang baik, akarnya teguh dan
cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim
dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia
supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon
yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak
dapat tetap (tegak) sedikitpun.” (QS. Ibrahim [14]: 24-26).
Allah telah menjanjikan kejayaan Islam di masa yang akan datang
cepat atau lambat, pilihan umat Islam saat ini adalah apakah ikut turut andil
ataukah tidak? Jika ikut turut andil menuju kejayaan dan kebangkitan peradaban
Islam maka akan menjadi golongan orang-orang yang beruntung, mendapatkan pahala
yang amat besar. Namun sebaliknya, jika hanya diam, duduk manis menonton,
mengikuti arus dunia, individualis, acuh tak acuh terhadap kondisi umat, dan
enggan berjuang di JalanNya karena lebih mencintai dunia dari pada cinta kepada
Allah dan Rasul maka tunggulah keputusan Allah.
Maka dari itu untuk mewujudkan kemenangan peradaban islam di
masa depan yaitu dengan mengerahkan segala bentuk upaya memaksimalkan potensi
yang dimiliki. Di antara potensi yang dimiliki umat yaitu berupa masjid dan
kaum intelektual. Tanpa menafikkan potensi lain, masjid dan kaum intelektual
berperan besar di dalam upaya mewujudkan kemenangan peradaban islam di masa
depan. Inilah yang dicontohkan para ulama, mereka memaksimalkan potensi dalam
membangun peradaban Islam yang jaya.
BAB III
KESIMPULAN
· Proses penyebaran islam
di nusantara termasuk Indonesia dilakukandengan cara perdagangan, perkawinan, pendidikan, dan melalui
seni dan budaya.
· Manfaat dari mempelajari sejarah perkembangan
islam di nusantara, salah satunya yaitu mampu membangun masjid sebagai tempat
ibadah dari berbagai bentuk, dan dapat meneladani Wali Sanga.
Adapun hikmah dari
mempelajari sejarah perkembangan islam ini yaitu Islam membawa ajaran yang
berisi kedamaian, selain itu penyebar ajaran Islam di Indonesia adalah pribadi
yang memiliki ketangguhan dan pekerja keras.
DAFTAR PUSTAKA
· Hasjmy,
A., Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia, cet.1, Jakarta: PT.
Bulan Bintang, 1990.
· Murodi, Sejarah
Kebudayaan Islam, Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1994.
0 komentar:
Posting Komentar